KATALOG LENGKAP

Silakan kirim e-mail ke rosiyaniellyana@gmail.com atau sms ke HP. 085641051278 untuk mendapatkan katalog lengkap judul-judul skripsi koleksi kami. Judul yg dipublikasikan baru sebagian dari koleksi kami. Katalog dikirim via e-mail.

Showing posts with label Kedokteran. Show all posts
Showing posts with label Kedokteran. Show all posts

Tuesday, January 21, 2014

Kd 010 : Pengaruh Waktu Pemberian Makanan Tambahan Terhadap Status Gizi Bayi Di Puskesmas Purwodiningratan Kecamatan Jebres Surakarta


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pertumbuhan adalah perubahan dalam arti pertambahan ukuran tubuh dan bagian-bagian lainnya sebagai akibat pertambahan jumlah sel-sel yang sama dengan sel-sel yang tumbuh tersebut. Dalam keadaan normal pertumbuhan anak-anak pada umur itu mengikuti pola tertentu sehingga pada umur tertentu didapatkan sosok tubuh anak dengan ukuran dan bentuk tertentu. Pertumbuhan dipengaruhi oleh macam­-macam faktor antara lain :
a.       Faktor intrinsik : genetik dan hormonal
b.      Faktor elestrinsik : lingkungan, masukan gizi, penyakit, akibat fisik, dan lain-lain.
c.       Interaksi keduanya (Suprandjono,1986)
Masa pertumbuhan otak tercepat adalah pada trimester ketika janin berada dalam kandungan sampai bayi berusia 18 bulan. Setelah itu otak masih tumbuh dengan kecepatan yang makin berkurang sampai usia 5 tahun.
Makanan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak setelah lahir, dimana makanan merupakan kebutuhan utama seorang anak untuk kelangsungan tumbuh yang yang optimal serta untuk keperluan kesehatannya ( Samsudin,1993 ).
Makanan merupakan unsur terpenting bagi seorang anak karena tidak hanya menetukan kesehatan pada masa sekarang tapi juga pada masa-masa yang akan datang, bahkan berpengaruh terhadap kehidupan anak itu selanjutnya (Morley,l979)
Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan yang paling baik untuk bayi. ASI mempunyai komposisi unik, sempurna susunan biokimiawinya untuk melindungi bayi dari kekurangan gizi maupun infeksi. ASI dapat mencukupi seluruh kebutuhan bayi akan zat-zat gizi sampai berusia 6 bulan, sesudah itu bayi memerlukan makanan tambahan. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) disamping selain untuk memenuhi kebutuhan bayi agar tumbuh dan berkembang secara sehat, juga digunakan untuk menanamkan kebiasaan dan sikap yang baik terhadap makanan. Dalam keluarga perlu ditanamkan sikap positif terhadap makanan sejak usia dini yaihi sejak bayi dan balita (Hermina,1992)
Sampai usia 4-6 bulan, Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan terbaik, untuk memenuhi kebutuhan fisiologis bayi (Soedibyo dan Samsudin,1985). Hal ini sesuai dengan sistem enzim dalam pencernaan bayi yang masih didominasi oleh enzim laktosa untuk mencegah laktosa ibu.
Tapi sebagian orang tua menganggap bayi akan kelaparan tanpa makanan tambahan sehingga mereka memperkenalkan pisang atau bubur dan sebagainya, padahal jenis ini memerlukan kehadiran enzim maltosa (karbohidrat) pada pisang dan bubur. Enzim maltosa umumnya belum banyak diproduksi oleh bayi dibawah usia 4 bulan. Kesalahan dalam memberikan makanan ini tentu membuat tubuh bayi tidak dapat mencerna dengan sempurna makanan yang diberikan oleh ibunya sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh tubuh.
Diatas usia 6 bulan, kebutuhan gizi meningkat dan bayi memerlukan makanan yang lebih padat dan berserat. Oleh karena itu pemberian ASI perlu dilengkapi dengan pemberian berbagi jenis makanan bayi lain ( makanan pendamping bayi atau makanan tambahan ) yang cair maupun yang lebih padat. Dengan demikian peranan ASI dalam memenuhi kebutuhan gizi antara lain energi secara berangsur-angsur berkurang (Soedibjo dan Samsudin,198S).
Pada usia 4 bulan pencernaan bayi mulai kuat. Pemberian makanan pendamping ASi harus setelah empat bulan, karena jika diberikan terlalu dini akan menurunkan konsumsi ASI dan bayi bisa mengalami gangguan pencernaan atau diare. Sebaliknya bila makanan pendamping diberikan terlambat akan mengakibatkan anak kurang gizi bila terjadi dalam waktu panjang (Toeti Sunardi,2000)
Di negara-negara berkembang sering dijumpai adanya gangguan pada masa anak membutuhkan makanan tambahan atau makanan pendamping ASI, dimana terjadi pemberian makanan tambahan yang terlalu dini atau terlalu tua. Keadaan tersebut dapat membawa akibat yang kurang baik untuk pertumbuhan anak (WH0,1988). Indonesia sebagai salah satu negara berkembang tidak luput dari masalah semacam itu (Depkes RI,1988). Lubis,dkk (1985) mengemukakan bahwa anak yang mendapatkan makanan tambahan atau makanan pendamping ASI sebelum berusia 4 bulan hanya 21,4% bergizi baik dan 78,6% pernah menderita kekurangan energi protein (Enoch,1988).
B.     Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : “apakah ada pengaruh antara waktu pemberian makanan tambahan dengan status gizi pada bayi di Puskesmas Purwodinigratan Surakarta ?”

C.    Tujuan Penelitian
Menilai status gizi bayi pada waktu pemberian makanan tambahan yaitu kurang dari 4 bulan, antara 4 - 6 bulan, lebih dari 6 bulan.

D.    Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat :
1.      Manfaat aspek teoritik
Sebagai sumber data penelitian lain atau sebagai studi banding di tempat lain.
2.      Manfaat terapan, / aspek aplikatif
Sebagai informasi yang berguna bagi petugas-petugas kesehatan, khususnya dalam hal pemberian makanan tambahan pada bayi.


DAFTAR PUSTAKA
 Atik, Gizi buruk akibat kritis atau perilaku, Kompas, 20 Juni 1999
Aritonang, I, 1990. Pemantauan Pertumbuhan Balita, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Djarwanto Ps., Pangestu Subagyo, 1996. Statistik Induktif, BTFE, Yogyakarta.
Depkes RI, 1998. Buku Pedoman Penggunaan pengganti Air Susu Ibu. Jakarta.
Djarwanto, Ps. dan Pangestu., S. 1996. Statistik Indusktif, BTFE - Yogyakarta.
Enoch, M. dan Paradede, T. 1986 Profil Keluarga dengan Anak balita Gizi Buruk”, Medika no. 3 tahun 12.
Hassan, R., Napitupulu, P.M. Latief, A., Pujiadi, A., Ghazali, MV., 1985. Ilmu Kesehatan Anak, bag. I, hal. 145-167, 387-395, Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Husaini, M.A. Meningkatkan Kualitas Tumbuh kembang Anak”.  http//www.medika online.com.
Husaini, Y.K., Anwar, I1.M_. 1986. Makanan Bayi Bergizi Tinggi, hal. 29-34, Gajah Mada University Press, Yogya.
M.oerley, D. 1979. Prioritas di Negera Sedang Berkembang, hal. 136-176, Yayasan Fssentia Medica, Yogya.
Samsudin, 1987. Perkembangan Tentang Jenis, istilah dan Pemanfaatan  makanan Bayi selain ASI dalam Simposiumk makanan Bayi KONIKA VII, Jakarta.
Samsudin, 1991. Perkemhangan Makanun Bayi dan Penggunaannya yang rasional dalain Upaya Peningkatan Kualitas Anak Indonesia dalam Pengukuhan Guru Besar Tetap dalam Ilmu Keselezatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Soetjiningsih, 1995. Dasar-dasarMetodologi Penelitian Klinis, Binarupa Aksara, Jakarta.
Tuti Soenardi, 2000. Makanan Pendanping ASI, http/www.medika online.com.
Soedibyo, S. 1982. Pelbagian Jenis Makanna Padat untuk pelekngkap Makanan bayi, diajukan pada PTE3-IKA, Jakarta.
Sutrisno Hadi, 1994.Metodologi Research Edisi ke, 4, ha1.315 - 355, Gajah Mada
Press. Yogyakarta.
UNICEF, 1985. Buku Pedoman Petugas Lapangan Dalam Upaya Perbaikan Gizi Keluarga  Cetakan V, Depkes RI, Jakarta.
Watik Pratiknya, 1986. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokterara dan Kesehutan, CV. Rajawali, Jakarta.


 Untuk mendapatkan file lengkap  sms ke HP. 085641051278

 






Wednesday, January 1, 2014

Kd 004 : PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN FORMAL TERHADAP HIGIENIS MENSTRUASI PADA PEKRJA WANITA di PT. LAWU BUSANATAMA TEXTILE SURAKARTA

SKRIPSI
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya perbedaan pengaruh tingkat pendidikan rendah dan menengah terhadap higienis menstruasi pada pekerja wanita di PT. Lawu Busanatama Textile Surakarta.

Jenis penelitian ini adalah penelitian epidemiologi analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Besar populasi dalam penelitian ini adalah 525 orang berjenis kelamin perempuan. Sampel diambil secara purposive sampling dan didapatkan sampel sebanyak 40 orang. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner yang diisi oleh responden. Dan untuk mengetahui pengaruh tingkat pendidikan formal terhadap higienis menstruasi pada pekerja wanita dilakukan pengujian statistik dengan uji Kai Kuadrat.

Dari hasil analisis diperoleh nilai X2 hitung sebesar 0,4396 sedangkan X2 tabel pada α = 0,05 dan db=1 adalah 3,84. Jadi X2 hitung < X2 tabel, maka Ho diterima dan H1 ditolak. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada pengaruh antara tingkat pendidikan formal terhadap higienis menstruasi pada pekerja wanita di PT. Lawu Busanatama Textile Surakarta.


Kata kunci : tingkat pendidikan formal - higienis menstruasi.


DAFTAR PUSTAKA
 
Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, (1991). Ilmu Pendidikan. PT. Rineka Cipra Jakarta. pp: 9-224.
Anonima, (1999). Alternatif Cegah Infeksi Vagina. http://hanyawanita.com/health_sex/health/artikel160.html
Anonimb, (2000). Memelihara dan Merawat Organ Reproduksi Perempuan. http://www.nt.ngo.or.id/pkb/pkbjabar/mcr/tips/memeliharaorgan.htm
Anonimc, (2001). Kesehatan Reproduksi Bagi Remaja. Cerita Remaja Indonesia-Situs Informasi Kesehatan Seksual dan Sosial Remaja. http://www.bkkbn.ngo.id/nqweb/ceria/mb/kesehatanreproduksi.html
Anonimd, (2002). Halaman Tips Cara Merawat Organ Perempuan. http://nt.ngo.or.id/pkbi/pkbjabar/mcrltips/memelihara organ.htm
Anonime, (2002). Keputihan. http://www.anispharmacv.com/keputihan.htm
Anonimf, (2002). Mitos-mitos Seputar Menstruasi. http://nt.ngo.or.id/pkbi/ pkbjabar/ mcr/mitos-mitos seputar menstruasi.htm
Anonimg, (2002). Perawatan dan Pemeliharaan Organ Reproduksi. Ajang Konsultasi Biar Gak Salah Jalan. http://www.cni.co.id/infocantik.htm
Anonimh, (2002). Seputar Menstruasi. Ajang Konsultasi Biar Gak Salah Jalan.http://www.konsektasivirtualave.net/tips/seputarmenstruasi.htm
Bertha Herlina, (2002). Bilas Vagina, bermanfaatkah? http://www.kalbe. co.id/kalbe.BA94ABE493347256B48014A616?openFarma/kalbe.nsf/ news 01/9DC3F
Bhisma Murti, (1996). Penerapan Metode Statistik Non-Parametrik dalam Ilmu-ilmu Kesehatan. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. pp: 38-53.
B. S. Mardiatmadja, (1986). Tantangan Dunia Pendidikan. Kanisius. Yogyakarta. pp: 1-94.
Departemen Kesehatan RI, (1993). Pedoman Kesehatan Reproduksi dan Kesehatan Kerja Wanita. Ditjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat dan Dit Bina Peranserta Masyarakat. Jakarta. pp: 3-38.
Farida Mutiarawati, Tri Agustina, Sabarinah B. Prasetyo dan Siti Dhvanti WisnuWardhani, (1997). Higienis Menstruasi pada Perempuan Pengunjung Rumah Sakit di Tangerang dan Subang. Kumpulan Makalah Kesehatan Reproduksi Remaja. pp: 168-179.
Ganong, W. F., (1995). Fisiologi Kedokteran. Edisi 14. EGC. Jakarta. p: 416.
Gloria, Guntoro Utamadi dan Tito, (2000). Kesehatan Seksual? Apa Tuh?. Maunya Anak Muda, http://www.gloria.net.org/Mau/Kliping/Klipkes. Html
Guntoro Utamadi, (2001). Memilih Pakaian dalam. Merawat Organ Reproduksi Cewek. http://www.gizi.net/cgi bin/berita/fullnews.cgi? Newsid100158631, 21675,
Guyton and Hall, (1999). Fisiologi Wanita Sebelum Kehamilan dan Hormon­Hormon Wanita. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. EGC. Jakarta. p: 1294.
Handokoa, (2000). Infeksi Vagina. http://www.handoko.net/keluarga.org/ke­luarga.org/infeksi vagina.html
Handokob, (2000). Macam-macam Infeksi Vagina. http://www.handoko.net/ keluarga.org/infeksi vagina2.shtml
Handrawan Nadesul, (2000). 10 Yang Patut diketahui Tentang Keputihan. http://www.tabloidnova.com/tips.asp?nomor=641&tahun terbit=XIII
Junita Indarti, (2001). Keputihan pada Perempuan. http://www. kompas.com/ kompas cetak/0107/01/IPTEK/kese22.htm
M. Ngalim Purwanto, (1988). Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. CV. Remadja Karya. Bandung. p: 12.
Mohammad Jusuf Hanafiah, (1999). Haid dan Siklusnya. Ilmu Kandungan Sarwono Prawirohardjo. Edisi 2. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta. pp: 103-105.
Muda, (1999). Menjaga Kesehatan Alai Reproduksi. http://www. handoko. net/ keluarga.organisasi/jaga alatreproduksi.shtml.
Sarwono, Sarlito W, (1989). Anatomi dan Proses Faalan Alat Kelamin Wanita. Psikologi Remaja. Edisi 1. CV. Rajawali. Jakarta. pp: 64-67.
Siswono, (2001). Merawat Organ Reproduksi Cewek. http://www.aia.netcgi bin/beritalfullnews.cgi?newsid100158631,21675,
Soegarda Poerbakawatja, (1970). Pendidikan Dalam Alam Indonesia. Merdeka. PT. Gunung Agung. Jakarta. p: 1.
Soetari Imam Barnadib, (1973). Pengantar Ilmu Pendidikan. FIP-IKIP Yogyakarta. p: 15.
Sutrisno Hadi, (1996). Statistik. Edisi I. Andi Offset. Yogyakarta. pp: 316­346.
Temazaro Zega, (1999). Persepsi Ibu Rumah Tangga Terhadap Pendidikan Kesehatan Reproduksi Bagi Remaja. Tesis, Program Pasca Sarjana UGM Yogyakarta. pp: 21-70.
Wisnoe Wardhana, (1970). Ilmu Pendidikan. Yayasan STO. Yogyakarta. p: 49.
WHO, (1992). Pendidikan Kesehatan. FIB dan Universitas Udayana. p: 8.


Untuk Mendapatkan File Lengkap Hubungi HP 085641051278





Kd 001 : PERBEDAAN USIA MENOPAUSE ANTARA WANITA PENGGUNA KONTRASEPSI SUNTIK PROGESTERON DAN PENGGUNA KONTRASEPSI DALAM RAHIM

SKRIPSI
ABSTRAK
Menopause merupakan suatu fase normal dari kehidupan seorang wanita yang dapat menimbulkan depresi dan stres. Sedangkan kontrasepsi adalah suatu cara atau alat yang digunakan untuk mencegah terjadinya kehamilan. Kontrasepsi masih digunakan terutama di negara-negara berkembang, seperti Indonesia untuk mengendalikan jumlah pertumbuhan penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan usia menopause pada penggunaan kontrasepsi Suntik progesterone dan kontrasepsi dalam rahim (AKDR).
Jenis penelitian ini adalah jenis survey epidemiologis analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini ditujukan kepada wanita menopause yang mempunyai riwayat sebagai pengguna kontrasepsi suntik progesteron atau pengguna kontrasepsi dalam rahim dan bertempat tinggal di kecamatan Banjarsari, Surakarta. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara quota sampling, dengan besar sampel 30 wanita pengguna kontrasepsi suntik progesterone dan 30 wanita pengguna kontrasepsi dalam rahim. Data diambil melalui wawancara dengan kuesioner yang dilaksanakan pada tanggal 5 Oktober ­2 November 2006.
Data yang didapat lalu dianalisa dengan uji statistik, yaitu uji t dan melalui perhitungan SPSS versi 11.0, diperoleh hasil t = -5,888 dan p = 0,000..
Sehingga dapat disimpulkan bahwa memang terdapat perbedaan usia menopause antara wanita pengguna kontrasepsi suntik progesterone dan wanita pengguna kontrasepsi dalam rahim di daerah kecamatan Banjarsari, Surakarta dan perbedaan tersebut bermakna secara statistik.

Kata kunci: Menopause-Kontrasepsi suntik progesteron-AKDR

 
DAFTAR PUSTAKA


Agus; S. (2004). Perkembangan Teknologi Kontrasepsi terkini : Metode Hormonal Bagi Perempuan. Seminar Contraceptive Technology Update. Surakarta.
Affandi, B. (1991). Kontrasepsi dalam Ilmu Kebidanan. Edisi 3. Jakarta: Gramedia. Hal: 905-33.
Affandi, 13. (1997). Masalah Kesehatan Pada Menopause. No.9. Tahun XXIII. Jakarta : Medika. Ha1 : 726-8.
Andalan. (2006). Sekilas tentang Kontrasepsi. Jakarta : DKT Indonesia.
Anonim. (2006). Kelebihan dan Kekurangan Kontrusepsi. www.minggupagi.com.artizle.plip?sid=95178. (10 September 2006).
BKKBN. (1994). Informasi Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta:BKKBN.
BKKBN. (2005). Hasil Penelitian Prevalensi Peserta KB Menurut Metode Kontrasepsi. Jakarta : BKKBN.
Cunningham,FG. (1995). Pengantar Statistik Kesehatan. Jakarta : EGC.
Dewata, L. (1986). Perkembangan Pemakaian Kontrasepsi dan Permasalahannya. Simposium Forum Perkembangan Baru dan Kemajuan Terakhir Obstetri & Ginekologi. Surabaya.
Guyton AC, Hall J1:. (1997). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta: EGC
Herman, MJ. (1996). Pemanfaatan Hormon dalam Kontrasepsi. Majalah Cermin Dunia Kedokteran. No. 112.
Irawati, T. (1995). Menopause. Konpas. Hal : 3.
Joedosepoetro, S. (1997). Tumor Jinak Pada Alat Genital. Buku Ilmu Kandungan. Edisi 2. Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Leman, M. (2006). Monopause & Hormone Replacement Therapy (HRT). http://eyberwomen.ebn.net.detik.asp?kategori.Health&newsno=75 A . (11 September 2006).
Mansjoer, A. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid I. Jakarta:Media Aesculapius FKUI.
Mayes PA, Rodwel VW, Granner DK, Martin DW. (1983). Harner's Review of Biochemistry. Edisi 20. Jakarta : EGC.
Miles, PS. (1996). Contracption. Bsteric and Gyecology. New York : Springer-Verlag
Ojeda, L. (1992). Menopause Without Medicine. 2th Edition., Alabama: Hunter House Inc. Hal 12-28.
Paat, G. (1994). Seks Menjelang Usia Lanjut Perubahan - Perubahan dan  Upaya Memperlambat Prosesnya. Majalah Kedokteran Indonesia. Vol 14. No.9. Hal : 552-7.
Pharmaceutical Industri. (2006). Depo Geston Suspensi Steril. Jakarta : PT. Triyasa Nagamas Farma.
Pritchard, J. (1991). Obstetri Williatns. Edisi 17. Surabaya: Airlangga University Press.
Siburian, P. (2006). Keluhan Rasa Panas pada Wanita Menopause. Waspada Online. Jakarta.
Suargana, T. (1997). Gambaran Klinis dan Penatalaksanaan Translokasi. Majalah Kedokteran Indonesia. Vol 47. No.5. Jakarta. ha1:217-25.
Suriritah. (2005). Beberapa Metode Kontrasepsi atau KB. Bagian 1.
Syaif A, Setiawan A, Muchtar HA, Bahry B, Suharto HB, Tirza D, Suyatna FD, dkk. (2003). Farmakologi dan Terapi. Edisi 4. Jakarta : Gaya Baru.
Wikipedia. (2006). Depo Provera. www.en.wikipedia.org/wiki/depoprovera.com. (10 September 2006).
Wikipedia. (2006). Intrauterine Device. www.en.wikipedia.org.wikipedia/intra/uterinedevice.com. (10 September 2006).
Yudomustopo, B. (1989). Pemeriksaan Ginekologis Menjelang Menopause. Simposium Problema Wanita Menghadapi Menopause. Rumah Sakit Pertamina, Jakarta.


Untuk Mendapatkan File Lengkap Hubungi HP 085641051278

ODAP

CARA PEMESANAN FILE

1. Silakan SMS ke HP. 085641051278 >> KODE FILE jangan lupa dicantumkan (agar proses pengecekan lebih mudah). Mohon SMS saja.

2. Kirim e-mail ke : rosiyaniellyana@gmail.com >> KODE FILE jangan lupa dicantumkan. Silakan tulis "FILE SKRIPSI SAYA" sebagai subjek e-mail.

3. Pembayaran dilakukan via transfer ke Bank CIMB Niaga. (nomer rekening kami informasikan bersamaan dengan konformasi file).

4. Pengiriman dapat berupa:
a. soft file >>> via e-mail
b. soft file dalam bentuk CD/DVD >>> via pos / paket
c. hard file (+ biaya print) >>>> via pos / paket